Kalteng dan Kalsel Coba Satukan Langkah, Pembangunan Tak Mau Jalan Sendiri-sendiri

suara2 – Kerja sama antar daerah itu sering terdengar bagus di atas kertas.

Tapi di lapangan, ya… tidak selalu kejadian.

Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan sekarang bilang mereka ingin memperkuat sinergi. Istilahnya begitu. Intinya, dua wilayah ini mencoba lebih “nyambung” dalam urusan pembangunan.

Karena selama ini, bisa di bilang masih jalan masing-masing.

Padahal potensinya ada. Bahkan cukup besar. Tapi kalau tidak di sambungkan, ya hasilnya terasa setengah-setengah. Itu yang mulai di sadari.

Makanya sekarang di arahkan ke kolaborasi.

Tidak semua di jelaskan rinci, tapi ada beberapa hal yang langsung di sebut. Infrastruktur, misalnya. Ini klasik, tapi memang selalu jadi akar. Jalan, akses, koneksi antarwilayah—kalau itu tidak beres, sektor lain ikut tersendat.

Dan ini bukan cerita baru.

Lalu ada soal konektivitas. Bukan cuma jalan fisik, tapi bagaimana barang dan aktivitas ekonomi bisa bergerak lebih lancar. Dari Kalteng ke Kalsel, atau sebaliknya, tidak lagi terasa seperti “beda wilayah”.

Kalau itu bisa tercapai, efeknya biasanya terasa cepat.

Menariknya, dua daerah ini di anggap punya potensi yang saling melengkapi. Jadi bukan saling saing, tapi bisa saling isi. Yang satu kuat di sektor tertentu, yang lain bisa jadi penopang.

Tinggal bagaimana itu di rangkai.

Di sisi lain, ada juga pembahasan soal perencanaan yang lebih terintegrasi. Ini bagian yang sering tidak kelihatan, tapi justru sering jadi masalah. Program di satu daerah kadang tidak nyambung dengan daerah sebelah.

Akhirnya jalan sendiri-sendiri lagi.

Nah, itu yang ingin di hindari.

Kalau di lihat lebih luas, dorongan kerja sama seperti ini sebenarnya bukan tanpa alasan. Tantangan pembangunan sekarang makin rumit. Tidak cukup kalau hanya mengandalkan kekuatan internal daerah.

Harus mulai buka koneksi.

Harus mau kerja bareng.

Meski begitu, tetap ada satu hal yang tidak bisa di lewatkan—peran pemerintah pusat. Karena sekuat apa pun daerah mencoba sinkron, kalau kebijakan di atasnya tidak sejalan, biasanya mentok juga.

Jadi ya, tetap butuh dorongan dari atas.

Untuk sekarang, langkah ini masih di tahap awal. Belum bisa di bilang langsung berdampak besar. Tapi setidaknya arah berpikirnya mulai berubah.

Dari sendiri-sendiri… ke coba bareng-bareng.

Dan di situ, mungkin, titik bedanya nanti akan terasa.