Harga Bitcoin Nyungsep Lagi, Tembus Titik Terendah Sejak 2024

suara2.com – Bitcoin lagi-lagi tersungkur. Nilainya terus merosot dan sekarang—resmi—menyentuh titik terendah sejak 2024.

Pasar kripto sedang lesu. Sangat. Dan belum ada tanda-tanda pemulihan dalam waktu dekat.

Dalam beberapa pekan terakhir, grafik harga BTC nyaris tak pernah menanjak stabil. Bukannya naik pelan-pelan seperti harapan banyak investor, justru makin sering nyungsep. Tekanan jual makin terasa. Sentimen pun tak bersahabat.

Investor? Banyak yang sudah mulai mundur perlahan. Bukan karena hilang harapan sepenuhnya, tapi karena khawatir. Karena jujur saja, dengan ketidakpastian ekonomi global, siapa yang berani ambil risiko besar sekarang?

Analis keuangan juga tak terlalu optimistis. Beberapa di antaranya menyebut penurunan ini bukan semata karena kripto itu sendiri, tapi karena imbas domino dari kebijakan moneter yang lebih ketat di banyak negara besar. The Fed, misalnya, masih galak. Suku bunga tinggi belum tentu turun cepat.

Tambah lagi, pasar global juga tak stabil. Jadi ya wajar saja kalau kripto, yang notabene high-risk, ikut-ikutan kena tekanan.

Dan jangan lupakan satu hal: Bitcoin itu volatil. Bukan tipe aset yang bisa bikin orang tidur nyenyak tiap malam. Naiknya bisa dramatis. Turunnya lebih dramatis lagi. Satu hari bisa naik US$2.000, besoknya hilang US$4.000.

Itu sebabnya, sebagian pemain pasar memilih diam. Menunggu. Cari celah. Menakar risiko sebelum masuk lagi. Nggak buru-buru. Karena harga hari ini belum tentu sama dua jam lagi.

Tapi tetap ada suara-suara dari balik layar. Pengamat yang percaya bahwa ini hanya bagian dari siklus alami pasar kripto. Naik-turun itu wajar, kata mereka. Asal pondasinya kuat: adopsi teknologi, penerimaan pasar, dan tentu saja—kepercayaan.

Apakah Bitcoin akan bangkit lagi? Mungkin. Tapi bukan hari ini.

Pasar masih penuh pertanyaan. Dan selama ketidakpastian global belum mereda, volatilitas Bitcoin bakal tetap jadi tamu tetap di meja perdagangan.