Anggota DPR Minta Anggaran MBG dan Gaji Guru Tidak Dipertentangkan

suara2.com – Belakangan ini, perdebatan soal anggaran kembali menghangat. Di ruang publik, dua isu di sandingkan seolah-olah harus di pilih salah satu: MBG atau gaji guru. Seakan-akan kalau yang satu naik, yang lain pasti turun. Logika yang sederhana—dan mungkin terlalu sederhana.

Seorang anggota DPR mencoba meredakan narasi itu. Ia menegaskan, anggaran MBG dan kesejahteraan guru tidak seharusnya di pertentangkan. Keduanya, katanya, sama-sama menyentuh fondasi pembangunan sumber daya manusia. Jadi bukan soal pilih A atau B.

Menurutnya, cara berpikir “kalau ini jalan, yang itu harus di korbankan” justru menyempitkan persoalan. Penganggaran negara tidak sesederhana membagi kue lalu kehabisan di tengah jalan. Ada perencanaan fiskal. Ada prioritas. Ada ruang untuk mengatur agar program bisa berjalan beriringan.

Ia mengingatkan, sektor pendidikan dan program MBG punya fungsi masing-masing. Guru adalah tulang punggung pendidikan. Tanpa kesejahteraan yang layak, sulit berharap kualitas pendidikan meningkat. Di sisi lain, MBG juga di posisikan sebagai program strategis yang berdampak pada masyarakat. Keduanya berada di ranah pembangunan manusia—beda bentuk, tapi tujuannya beririsan.

Karena itu, menurutnya, pembahasan anggaran harus di lihat secara komprehensif. Tidak parsial. Pemerintah di minta cermat dalam merancang belanja negara, supaya program prioritas tidak saling berbenturan di persepsi publik, apalagi di praktik.

Isu ini mencuat setelah muncul kekhawatiran bahwa penyesuaian belanja negara bisa berdampak pada salah satu program. Kekhawatiran yang wajar, mungkin. Tapi DPR menegaskan pembahasan masih berlangsung sesuai mekanisme. Belum ada keputusan final yang mengarah pada pengorbanan salah satu pihak.

Ia juga menyinggung soal transparansi. Proses penyusunan dan realisasi anggaran, kata dia, perlu terbuka. Masyarakat berhak tahu ke mana dana negara di alokasikan dan untuk tujuan apa. Dengan begitu, diskursus tidak berkembang liar tanpa pijakan informasi yang jelas.

Pada akhirnya, pesan yang ingin di sampaikan sederhana: jangan tempatkan MBG dan gaji guru di dua kutub yang berlawanan. Keduanya bagian dari upaya yang lebih besar. Dan perdebatan publik, kalaupun ada, sebaiknya tetap proporsional—tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa yang satu harus tumbang agar yang lain berdiri.