Batas Waktu 4 Jam Pakai HP di Sekolah Rakyat: Awalnya Bikin Bosan, Tapi Otak Jadi Lebih Fokus

Empat jam. Itu batas waktu yang di kasih Sekolah Rakyat buat para muridnya main HP dalam sehari. Bukan bebas sepanjang waktu, tapi hanya mulai sekitar setengah empat sore sampai delapan malam. Setelah itu? HP di kumpulin, di simpan, dan baru balik lagi besok pagi.

Reaksi awalnya? Bisa di tebak. Protes. Bosen. Ngerasa kayak ketinggalan banyak hal. Beberapa murid sempat ngeluh soal aturan ini. “Gimana mau tahu berita kalau HP cuma bisa di pakai sebentar?” begitu kira-kira suara yang sempat muncul.

Tapi seiring waktu, situasinya mulai berubah. Anissa, salah satu staf yang ikut ngurusin sekolah itu, cerita kalau pada awalnya memang nggak gampang. Banyak pertanyaan dari siswa, kenapa tiba-tiba harus di batasi. Tapi ada pendamping, ada dialog, dan akhirnya satu per satu bisa mulai ngerti.

“Kami nggak larang main HP. Cuma di kasih waktu, supaya nggak berlebihan,” kata Anissa. Menurut dia, aturan ini bukan datang dari atas atau dari kementerian, tapi hasil kesepakatan internal sekolah. Tujuannya biar anak-anak nggak terlalu lekat sama layar.

Dan memang, di sekolah itu, anak-anak padat kegiatan dari pagi sampai sore. Jadi HP juga bukan jadi kebutuhan utama saat itu. “Awalnya kaget, lama-lama biasa,” kata Amelia, salah satu siswa di sana. Dia juga sempat ngerasa nggak update, apalagi soal hal-hal viral di internet. Tapi makin lama, katanya, justru jadi ngerasa lebih tenang.

Sekarang, kalau pegang HP, dia lebih fokus pakai buat hal penting. Hubungi orang tua. Cek tugas sekolah. Cari materi pelajaran. Yang nggak penting-penting, mulai di tinggalin.

Dan karena waktu main HP di batasi, mereka jadi punya lebih banyak momen buat hal lain. Main bareng. Ngobrol. Duduk-duduk sambil cerita. Menurut Amelia, meski kadang masih ada rasa bosan, suasana di sekolah malah jadi lebih hangat. “Kami jadi sering ketawa bareng. Tanpa HP pun, masih banyak yang bisa di lakukan,” ucapnya.