Indonesia Pimpin Dewan HAM PBB, Serangan ke Aktivis Kontras Jadi Catatan yang Tak Bisa Diabaikan

suara2 – Kabar itu terdengar membanggakan. Indonesia di percaya memimpin Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa. Di forum internasional, posisi ini bukan simbol kosong. Ada peran diplomasi, ada tanggung jawab moral, ada ekspektasi global yang menyertainya.

Tapi hampir bersamaan dengan itu, muncul kabar lain. Seorang aktivis dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan—Kontras—di laporkan menjadi korban penyiraman air keras oleh orang tak di kenal.

Rasanya janggal ketika dua peristiwa itu di baca dalam satu tarikan napas.

Di luar negeri, Indonesia duduk memimpin pembahasan soal perlindungan hak asasi manusia. Di dalam negeri, seorang pembela HAM justru di serang. Kontrasnya terlalu nyata untuk di abaikan.

Penunjukan Indonesia sebagai pimpinan Dewan HAM PBB jelas mencerminkan kepercayaan internasional. Artinya, komunitas global menilai Indonesia cukup kredibel untuk memfasilitasi agenda hak asasi di tingkat dunia. Ini bukan posisi yang datang begitu saja. Ada proses diplomasi panjang di belakangnya.

Namun insiden yang menimpa aktivis Kontras itu langsung menggeser percakapan publik. Banyak yang bertanya, pelan tapi tajam: bagaimana dengan perlindungan terhadap aktivis di rumah sendiri?

Serangan penyiraman air keras itu bukan sekadar tindak kekerasan biasa. Ada simbolisme di sana. Ada pesan yang bisa di tafsirkan sebagai upaya membungkam. Dan karena korban adalah aktivis, dimensi kasusnya menjadi lebih luas.

Sejumlah pihak menyampaikan keprihatinan. Ada yang meminta aparat bergerak cepat. Ada pula yang menekankan pentingnya pengusutan menyeluruh dan transparan. Tidak setengah-setengah. Tidak berhenti di permukaan.

Kasus ini memantik diskusi lama yang sebenarnya belum pernah benar-benar selesai: seberapa aman ruang advokasi hak asasi manusia di Indonesia? Apakah pembela HAM mendapat perlindungan memadai? Atau justru masih rentan?

Pertanyaan itu kembali mengemuka, kali ini dalam konteks yang lebih sensitif—karena Indonesia sedang memegang posisi penting di Dewan HAM PBB.

Sebagian pengamat menyebut ini sebagai ujian konsistensi. Komitmen di forum internasional harus sejalan dengan praktik di dalam negeri. Tidak bisa di pisahkan. Tidak bisa berdiri sendiri-sendiri.

Penegakan hukum dalam kasus ini menjadi kunci. Prosesnya harus jelas. Transparan. Publik perlu melihat bahwa negara hadir, bukan hanya dalam pidato atau pernyataan resmi, tetapi dalam tindakan konkret.

Kepemimpinan Indonesia di Dewan HAM PBB tetap berjalan. Agenda global tetap harus di urus. Tapi sorotan di dalam negeri tak kalah penting.

Karena pada akhirnya, reputasi internasional tidak hanya di bangun dari posisi yang di raih, melainkan dari bagaimana negara menjaga warganya—terutama mereka yang berdiri di garis depan memperjuangkan hak orang lain.